Kopi ada dua jenisnya yang saya nilai dari sudut proletar
dan kapitalis, ketika itu ada sebuah warkop yang menampung dua kopi tersebut
dalam satu meja dengan obrolan sebagai bahan pemanfaatan waktu, karena segala
sesuatu diciptakan dan tercipta pasti memiliki manfaat dan peranannya
masing-masing. Kadang dari kopi proletar berceloteh bahwa kopi original kini
sepi pelanggannya kebanyakan sudah beralih ke kopi-kopi model artificial yang
lebih mengedepankan permukaan dari pada rasa atau khas produk local, kopi
kapitalis menyahuti bahwa bukan salah mu menjadi kopi yang proletar atau kopi
milik rakyat asli suatu daerah atau kopi murni tanpa campuran beras dan jagun
kaya saya ini, yang bodoh adalah ketika orang-orang negeri ini terlalu ribut
untuk masalah artificial alias masalah fisik tapi lupa untuk memaknai semua
yang mereka buat atau akan mereka lakukan. Tetaplah jadi dirimu yang proletar
karena ketika saya menjadi kopi kapitalis tanpa ada teman yang proletar akan
sulit untuk menjadi gunjingan khalayak pecinta kopi di negeri pertiwi ini. Kopi
proletar bersedih dan berkata, naïf memang keadaan kita ini kini hanya karena
beberapa kebutuhan, hanya karena kebutuhan mendasar yang nyasar entah untuk apa
kita berdua jadi sebuah gunjingan yang memang tak enak di dengar. Catatan kecil, yah dari situlah tulisan-tulisan besar akan tumbuh dan berkembang (cerpen, novel & roman). Jadilah penulis yang memulai dari catatan kecil, dimulai dari kehidupan sehari-hari kita dan yang paling sering kita lakukan (ahli dalam suatu bidang).
Rabu, 25 Mei 2016
Kopi proletar dan kopi kapitalis
Kopi ada dua jenisnya yang saya nilai dari sudut proletar
dan kapitalis, ketika itu ada sebuah warkop yang menampung dua kopi tersebut
dalam satu meja dengan obrolan sebagai bahan pemanfaatan waktu, karena segala
sesuatu diciptakan dan tercipta pasti memiliki manfaat dan peranannya
masing-masing. Kadang dari kopi proletar berceloteh bahwa kopi original kini
sepi pelanggannya kebanyakan sudah beralih ke kopi-kopi model artificial yang
lebih mengedepankan permukaan dari pada rasa atau khas produk local, kopi
kapitalis menyahuti bahwa bukan salah mu menjadi kopi yang proletar atau kopi
milik rakyat asli suatu daerah atau kopi murni tanpa campuran beras dan jagun
kaya saya ini, yang bodoh adalah ketika orang-orang negeri ini terlalu ribut
untuk masalah artificial alias masalah fisik tapi lupa untuk memaknai semua
yang mereka buat atau akan mereka lakukan. Tetaplah jadi dirimu yang proletar
karena ketika saya menjadi kopi kapitalis tanpa ada teman yang proletar akan
sulit untuk menjadi gunjingan khalayak pecinta kopi di negeri pertiwi ini. Kopi
proletar bersedih dan berkata, naïf memang keadaan kita ini kini hanya karena
beberapa kebutuhan, hanya karena kebutuhan mendasar yang nyasar entah untuk apa
kita berdua jadi sebuah gunjingan yang memang tak enak di dengar. Dunia lelaki tak dimiliki wanita
Petani yang mencuri sandal jepit ku
Beberapa bulan terakhir setiap akhir pekan saya selalu
menjelajah entah kemana mencari sesuatu yang mungkin bisa bermakna untuk
dikenang dan diceritakan untuk anak cucu kelak. Tetapi kelucuan itu datang
bukan dari tempat-tempat jauh yang seperti saya angankan dan bayangkan,
kelucuan itu datang dari rumah kontrakan saya di pinggiran kota kenamaan yang
apa adanya ini. Pulang lah saya dari petualangan yang entah ke berapa telah
tayang pada layar televisi di dalam sanubari jiwa ini,
Sabtu, 25 April 2015
Jiwa yang sunyi
Judul : Jiwa yang sunyi
Tahun : 2015
Taken by Cannon 600D
Kegilaan merupakan jalan menuju ketidak-egoisan. Gilalah dan ungkapkan semua yang terselubung “kewarasan”. Hakikat kehidupan adalah berusaha untuk mengungkap rahasia-rahasia tersebut, dan kegilaan merupakan jalan satu-satunya.
Kegilaan merupakan jalan menuju ketidak-egoisan. Gilalah dan ungkapkan semua yang terselubung “kewarasan”. Hakikat kehidupan adalah berusaha untuk mengungkap rahasia-rahasia tersebut, dan kegilaan merupakan jalan satu-satunya.
Sehat tanpa rokok setelah makan !
Judul : Sehat
tanpa rokok setelah makan !
Tahun : 2015
Edited by photoshop cs5
Para ilmuan telah mentapkan dengan percobaan bahwa
merokok satu batang setelah makan, setara dengan merokok 10 batang pada waktu
yang lain. Artinya kerusakan dan penyakit yang diakibatkan oleh satu batang
rokok setalah makan, sama dengan kerusakan dan penyakit yang diakibatkan 10
batang rokok. Ini sudah menjadi masalah tersendiri dalam sosial masyarakat di
Indonesia yang menganggap bahwa merokok adalah hal biasa dan terutama saat
setelah makan biasanya mereka merokok denagan leluasa tanpa memikirkan kesehatan
diri mereka sendiri, walaupun mereka sudah tahu merokok itu tidak sehat tetpi
karena rasa candu mereka menjadi orang-orang yang apatis terhadap kesehatannya
sendiri. Sehat tanpa rokok setelah makan adalah hal kecil yang coba saya
gaungkan dalam karya poster ini.
Deskripsi logo. Filosfi logo
Deskripsi logo. Filosfi logo
Logo ini muncul setelah saya ingat tentang sapaan teman-teman
saat SMA dulu, mereka menyapa dan memanggil saya dengan sebutan ‘Memet’ atau ‘M’
yang merupakan kependekan dari nama depan saya yaitu Muhammad, lalu karena di
SMA dulu ada anak lain yang memiliki nama yang sama dengan saya yaitu ‘Fajar’
namun ‘Fajar’ adalah nama tengah saya sehingga teman-teman menggunakan nama
depan saya sebagai pembeda, sebagai sapa dan panggilan. Hubungan dengan
perpustakaan ini adalah saya mendedikasikan diri untuk membangun perpustakaan
ini khususnya tentang seni, budaya dan sejarah sebagai sumbangan pengetahuan
dan kebermanfaatan diri pada orang-orang sekitar saya. Secara filosofis logo
yang berbentuk huruf ‘M’ ini saya citrakan seperti kedinamisan angin yang bertiup
sepoi-sepoi, menelisik jiwa yang dulunya gersang sehingga menjadi sejuk dan
basah dengan symbol warna hijau tosca merupakan ekspresi dedikasi untuk
berbagi melalui sebuah buku-buku yang terpajang di rak-rak itu.
Rabu, 22 April 2015
Udara yang bebas asap rokok !
Judul : Udara
yang bebas asap rokok !
Tahun : 2015
Edited by photoshop cs5
Berawal dari kegelisahan pada orang-orang di sekitar
lingkungan bergaul, mereka berdebat
tentang rokok yang menjadi candu bagi mereka. Ketika ideology mereka
diusik menyoal kenapa mereka tidak berhenti merokok padahal merokok itu tidak
sehat dan lainnya, mereka mempunyai seribu alasan untuk menghindar dari masalah
asap rokok yang menggangu orang-orang sekitarnya yang tidak merokok atau biasa
disebut perokok pasif. Menurut saya ini adalah masalah social yang teramat
serius karena orang-orang terkena candu sudah tidak bisa lagi di ajak
berkompromi soal asap rokok yang mencemari lingkungan ini. Mereka akan
memberikan dampak buruk kepada generasi penerus secara langsung maupun secara
tidak langsung. Perokok aktif telah merenggut kemerdekaan orang-orang yang
tidak merokok untuk menghirup udara bebas asap rokok . Bebas asap rokok !
Rindu pematang sawah
Judul :
Rindu pematang sawah
Tahun : 2014
Taken by Nikon FM10 (analog)
Suatu pagi suatu hari bersenjata sebuah kamera aku
mulai menyusuri setapak jalan berlumpur dan becek. Turun kebawah di areal
perkebunan dan persawahan belakang rumah. Hijau dan kuning mendominasi, hijau
yang sejuk nan segar mengobati mata dan jiwa yang gersang karena asap rokok dan
kendaraan bermotor budaya yang ada di kota, kini saat aku berada di atas
perkebunan dan pematang sawah ini akhirnya bisa terobati walau aku tahu aku harus
kembali lagi nanti ketempat ini karena sesuatu yang menyembuhkan dan indah ini
adalah candu yang tak kuasa kita tolak namun harus kita atur sesuai dengan apa
yang kita butuhkan bukan untuk merusak diri dengan menuruti keinginan diri.
Kuning hanyalah pantulan warna dari matangnya sinar matahari nan cerah di pagi
itu, keringat bercucuran walau baru sekitar dua puluh menit aku menjelajah
namun rasa letih adalah pengingat akan bahaya diri sendiri jika melakukan
sesuatu yang berlebihan, berambisius yang mencandu pula.
Sesuatu yang indah belum tentu melahirkan sebuah
kebaikan dan yang buruk belum tentu
berujung kejahatan, yang wajib kita lakukan adalah menjadi orang-orang
yang baik.
Selasa, 21 April 2015
Senin, 06 April 2015
Pijakan yang lemah
Dalam karya saya tahun
2013 yang berjudul “Pijakan yang lemah” ini di buat menggunakan teknik cetak
negative dan menggunakan media resin sebagai duplikasi benda-benda yang saya
ingin satukan. Cetakan sepatu dan daun sawi ini menggunakan silicon atau lem
kaca yang di oleskan langsung pada benda yang ingin di cetak tentunya. Saya menampilkan dua karakter yang sebenarnya berbeda jauh dan tak ada hubungannya sama sekali, yaitu sepatu untuk lari dan
daun sawi. Dari ketidak nyambungan tersebut jadilah bentuk patung ini, dari
sepatu untuk lari yang saya buat sedikit pleat-pleot tidak mengikuti bentuk aslinya dan daun
sawinya pun hanya se helai saja. Di finishing dengan warna emas akrilik, biru
dan putih akrilik, ada rongga di dalam sepatu yang sengaja saya suguhkan agar
terkesan hasil cetakan sepatu tipis dan ringan.
Dalam karya ini
terdapat perpaduan garis horizontal dan vertical, horizontal pada bentuk sepatu
yang lebih banyak terlihat garis horizontal dan pada daun yang lebih banyak garis
vertical.
Terdapat tiga warna
yang di dominasi warna emas dan warna biru dan putih sebagai pembeda dan aksen
simple.
Memang tekstur dari
sepatu dan daun cukup baik tercetak dan jika di raba akan berbeda dengan sepatu
yang asli karena media resin yang lumayan keras dibanding bahan sepatu pada
umumnya.
Ruang, saya melihat
ruang jelas terwujud dari bentuk sepatu itu sendiri, mungkin karena kita sering
melihat sepatu sejak kita kecil dan terdapat rongga sepatu yang menjelaskan
ruang kosong itu sendiri.
Bidang, terlihat dari
pembagian warna emas, biru dan putih jika saya hanya melihat perbagian warna
saja maka akan terlihat sebuah bidang tersendiri saja.
Value timbul saat ada
pantulan cahaya menyentuh patung, dan ini diperkuat dengan bentuk asimetris
dari patung atau dari bentuk yang pleat-pleot sehingga untuk gelap terangnya
bisa sedikit kita lihat.
•
Sepatu dan daun sawi dengan judul “Pijakan
yang lemah”, kadang kita berpijak pada sesuatu yang lemah dan kita memang selalu
berpijak pada sesuatu yang lemah tetapi apakah kita tak mau memilih untuk tetap
kuat di atas pijakan yang lemah itu ? Itu pilihan kita masing-masing, setiap
orang punya dan mampu memilih, memilih bertahan atau menyerah.
•
Saya ulangi lagi, sepatu dan daun sawi,
sebenarnya saya hanya merespon lingkungan sekitar saja, lingkungan yang
berhubungan dengan anak muda dengan fashion dan tetangga saya dengan
pertanianya.
•
Anak muda dengan dunia fashionnya,
sangat mengelora mereka anak muda, iya walau saya juga masih muda tapi apa
salahnya berpikir seperti para orang tua ? Mereka bangga akan gengsi akan semua
pernak pernik kemeriahan dunianya dengan brand yang mereka junjung tinggi padahal hanya sekadar sepatu yang fungsinya sama dan jika memang tidak melihat hanya
dari sudut fungsi sepatu itu bisa jadi simbol tingkat ekonomi mungkin saat ini
jika mereka menggunkan merek dan barand sepatu yang di pakai oleh artis dan
orang-orang barat maka mereka otomatis aka jadi seperti artis dan orang barat ?
Tentu saja kita tetap orang jawa atau orang indonesia yang lebih nyaman
kemana-mana memakai sendal jepit. Lucu memang tapi itu respon saya terhadap
anak muda sekarang ini.
•
Untuk tetangga saya dan dunia pertaniannya, mereka tak sempat dan tak mungkin lagi memikirkan hal-hal macam
sepatu ber-merek dan branded tentunya, untuk makan saja sudah bersyukur untuk
biaya pendidikan pun susah untuk apa membeli gengsi pada sebuah sepatu ? Jika di
tanya kenapa tidak pernah memakai dan membeli sepatu ? Jawabnya nanti siapa
yang akan memberi makan dan membiayai anak saya dan saya !. Mungkin saya tidak
bisa menjelaskan terlalu detail bagaimana menjadi petani kini karena saya tak
pernah punya memiliki lahan pertanian, tetapi dengan melihat dan mengamati saya
bisa sedikit tahu tentang itu.
•
Dari karya saya sendiri bisa di tarik
kesimpulan sedikit bahwa masih banyak ketimpangan yang menyatu dengan
kenyamanan dan kemewahan dan itu di anggap hal biasa, namun seharusnya kita
sadar kita perlu berbagi agar merasa kita memiliki.
Langganan:
Postingan (Atom)







