Beberapa bulan terakhir setiap akhir pekan saya selalu
menjelajah entah kemana mencari sesuatu yang mungkin bisa bermakna untuk
dikenang dan diceritakan untuk anak cucu kelak. Tetapi kelucuan itu datang
bukan dari tempat-tempat jauh yang seperti saya angankan dan bayangkan,
kelucuan itu datang dari rumah kontrakan saya di pinggiran kota kenamaan yang
apa adanya ini. Pulang lah saya dari petualangan yang entah ke berapa telah
tayang pada layar televisi di dalam sanubari jiwa ini,
kontrakan kosong dan didepan
pintu tak nampak lagi ada tanda-tanda sandal jepit warna cokelat yang penuh
histori akan kesabaran dan perjuangan ketika terjadi perang dingin waktu itu,
sampah pelastik bekas minuman es teh berceceran di banyak tempat, bungkusan
nasi yang terlentang tanpa penutup pun mebanjiri di depan rumah kontrakan saya
ini. Ohh ternyata sawah samping kiri rumah kontrakan sudah ludes dibabat oleh
arit petani, namun kenapa sandal jepit kesukaan saya juga dibabat dan mengotori
halam rumah kontrakan saya ? hati ini jengkel namun mau ngambek sama siapa dan
buat apa juga ngambek wong saya sudah kalah telak dalam kasus ini, yah akhirnya
saya pakai sandal jepit bertotol-totol hitam jamuran yang biasa di pakai ke
kamar mandi itu.
Namun tak habis pikir sandal jepit usang dan jelek pun
mereka renggut dari saya tanpa saya pernah memergokinya. Mmm masalahnya bukan
pada bagus atau buruk benda yang di begal itu, namun ada suatu kesempatan dan
niatan yang muncul dari konsesus warga nurani dan pikiran, yang dimenangkan
oleh pikiran yang mendukung kekejian tingkat sandal jepit usang yang sudah
melar dan tipis, beberapa kali sering kehilangan sandal jepit walau sudah jelek
dan usang, kebanyakan sandal itu raib tanpa pernah saya pergoki atau pernah
lihat lagi, mungkin ini penculikan aktivis sandal jepit yang sebenarnya salah
tangkap dan karena kehilangan kendali saat di introgasi, kelewat nyiksan
tahanan sekalian aja deh di bunuh dan di buang mayatnya di sungai. Kadang juga
kalau ke sungai lihat sebuah sandal mengambang di sungai yang satunya lagi
entah pergi keman ? Tak sepasang lagi dia menjadi mayat sandal, ada juga bagian
yang dimutilasi dengan tangan keji. Hingga kini saya masih menggunakan sandal
jepit kamar mandi yang jamuran, mungkin dia bisa jadi korban penculikan aktivis
sandal jepit lagi. Sandal jepit bagi saya merupakan benda paling fungsional dan
berharga historis karena bisa mengambang di air sungai saat lepas dari jepitan
jari kaki :V
Tidak ada komentar:
Posting Komentar