![]() |
Anak-anak rentan terpapar asap rokok, apakah kalian mau anak kalian menjadi perokok ? |
Banyak yang lulus cepat dan memiliki nilai tinggi ada pula
yang sampai professor atau ahli dibidangnya namun yah masih ada juga yang bisa
di sogok bahkan ada yang masih berlagak seperti orang yang tak pernah makan
bangku sekolahan, melihat dari masih banyaknya anak-anak yang membeli rokok
dengan bebasnya di warung-warung samping sekolahan pada waktu istirahat dan
dengan santainya menunggu bus sambil menghisap rokok. Kadang para orang yang
sudah sadar literasipun masih memiliki kelakuan untuk tidak peduli dengan
kesehatannya bahkan dengan dampak apa yang telah mereka hasilkan dari perilaku
merokok yang bebas dimana saja, di institusi pendidikan, di pemerintahan, di
rumah, dimana pun itu ketika itu jua ada anak-anak yang menjadi korban perilaku
dari kebiasan merokok. Budaya literasi tidak diikuti dengan pemikiran yang
progressive. Ada yang bilang bahwa merokok itu bukan masalah pemikiran yang
sudah sadar literasi atau memiliki budaya literasi namun merokok itu soal candu
yang memang kompulsif di otak yang membuat otak jadi ketagihan atau entah lah
saya masih belum benar-benar paham atau susah mencari kebenaran fakta yang soal
rokok ini. Lalu apa pula itu budaya literasi ? buat apa pula mengurusi
anak-anak yang di bawah umur untuk tidak merokok ? mengapa pula saya menulis
dan berkampanye soal rokok ? toh semua itu karena negeri ini di cengkram oleh
industry rokok yang pemilik rokoknya pun tidak merokok, biasanya gitu sih yang
memiliki industry sudah tidak lagi butuh apa yang industry itu hasilkan,
pemilik tersebut memilih menyendiri dan menikmati dunia yang sesungguhnya yang
tidak ada kaitannya dengan industry.
Kembali lagi ketika seseorang yang sadar literasi maka ia
tidak automatis juga sadar kesehatan karena ini berkaitan dengan kebiasaan
hidupnya, apakah ia sudah rampung untuk mengurusi dirinya entah itu soal
financial dan pemanfaatan fasilitas kesehatan di lingkungannya atau
dilingkungannya belum memiliki fasilitas tersebut ? yang jelas kesehatan adalah
hal yang tidak melulu soal sakit dan tidak sakit, tetapi ketika sehat apa yang
kita lakukan untuk tetap sehat, seperti music yang terus mengiringi walau lagu
belum mulai dan ketika lagu telah usai, music tetap mengiringinya. Bukan soal
rokok (kretek) itu budaya perlawanan terhadap penjajah dulu bukan soal kenikmatan
tetapi apakah kita sudah sadar untuk selesai dengan diri kita sendiri, untuk
menjadi contoh anak cucu kita yang menjadi orang tua sehat, syukur-syukur untuk
tidak mengalami sakit komplikasi yang membingungkan dan tentunya biaya mahal.
Silahkan jika memang mau merokok, mau mendukung kretek sebagai warisan negeri,
tetpi saya cuman ingin mewariskan kesehatan pada anak cucu saya, bukan
mewariskan penyakit komplikasi yang membuat repot anak cucu dan mengakhiri
hidup dengan kalah oleh kesehatan diri sendiri yang hancur dari kenikmatan masa
lampau dari yang dulu kita perjuangkan utuk terus kita hisap dan sesap.
Silahkan teliti hingga menjadi tembakau itu komoditas yang menggiurkan namun,
merusak paru-paru anak-anak yang sedang bertumbuh, walau saya percaya bahwa di
tembakau atau nikotin juga ada zat yang bisa menghancurkan sel kanker tetapi
sangat lucu jika sel kanker itu mati tetapi paru-paru penuh dengan sisa
pembakaran hasil menghisap asap rokok ? apakah kesehatan itu soal selera ?
apakah sehat itu selera, tergantung pada seseorang seperti memilih makan
kesukaannya ? kesehatan adalah rahmat atau anugrah dari Tuhan jika orang-orang
sadar tentang itu, memang jika perlu dikaji kesehatan adalah bukan cuman
anugrah dari tuhan saja tetapi usaha kita menyikapi anugrah itu sendiri.
Bagaimana pula kesehatan tidak bisa kita tentukan sampai kapan kita sehat dan
seberapa lama kita sakit, satu hari ? dua hari ? atau sebulan, dua tahun atau
puluhan tahun kita sakit ? entah jika orang tua saya merokok dan merokonya dengan
keretek yang dilinting sendiri lalu orang tua saya bisa kapan dan dimana ia
sakit lalu seberapa lama ia sakit, itu sebuah kelucuan yang manusia ciptakan
untuk menjadikan dirinya seperti Tuhan, mengatur segal-galanya sendirian.
Silahkan berkampanye bahwa rokok memiliki manfaat namun jangan wariskan
ketidak-bermanfaatan rokok pada anak cucu kita jika kau tahu akhirnya hanya
ketidak-bermanfaatan ujungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar