Senin, 30 Mei 2016

Sadar literasi sadar kesehatan, ah masa sih ?

Anak-anak rentan terpapar asap rokok, apakah kalian mau anak
kalian menjadi perokok ?
Banyak yang lulus cepat dan memiliki nilai tinggi ada pula yang sampai professor atau ahli dibidangnya namun yah masih ada juga yang bisa di sogok bahkan ada yang masih berlagak seperti orang yang tak pernah makan bangku sekolahan, melihat dari masih banyaknya anak-anak yang membeli rokok dengan bebasnya di warung-warung samping sekolahan pada waktu istirahat dan dengan santainya menunggu bus sambil menghisap rokok. Kadang para orang yang sudah sadar literasipun masih memiliki kelakuan untuk tidak peduli dengan kesehatannya bahkan dengan dampak apa yang telah mereka hasilkan dari perilaku merokok yang bebas dimana saja, di institusi pendidikan, di pemerintahan, di rumah, dimana pun itu ketika itu jua ada anak-anak yang menjadi korban perilaku dari kebiasan merokok. Budaya literasi tidak diikuti dengan pemikiran yang progressive. Ada yang bilang bahwa merokok itu bukan masalah pemikiran yang sudah sadar literasi atau memiliki budaya literasi namun merokok itu soal candu yang memang kompulsif di otak yang membuat otak jadi ketagihan atau entah lah saya masih belum benar-benar paham atau susah mencari kebenaran fakta yang soal rokok ini. Lalu apa pula itu budaya literasi ? buat apa pula mengurusi anak-anak yang di bawah umur untuk tidak merokok ? mengapa pula saya menulis dan berkampanye soal rokok ? toh semua itu karena negeri ini di cengkram oleh industry rokok yang pemilik rokoknya pun tidak merokok, biasanya gitu sih yang memiliki industry sudah tidak lagi butuh apa yang industry itu hasilkan, pemilik tersebut memilih menyendiri dan menikmati dunia yang sesungguhnya yang tidak ada kaitannya dengan industry.


Kembali lagi ketika seseorang yang sadar literasi maka ia tidak automatis juga sadar kesehatan karena ini berkaitan dengan kebiasaan hidupnya, apakah ia sudah rampung untuk mengurusi dirinya entah itu soal financial dan pemanfaatan fasilitas kesehatan di lingkungannya atau dilingkungannya belum memiliki fasilitas tersebut ? yang jelas kesehatan adalah hal yang tidak melulu soal sakit dan tidak sakit, tetapi ketika sehat apa yang kita lakukan untuk tetap sehat, seperti music yang terus mengiringi walau lagu belum mulai dan ketika lagu telah usai, music tetap mengiringinya. Bukan soal rokok (kretek) itu budaya perlawanan terhadap penjajah dulu bukan soal kenikmatan tetapi apakah kita sudah sadar untuk selesai dengan diri kita sendiri, untuk menjadi contoh anak cucu kita yang menjadi orang tua sehat, syukur-syukur untuk tidak mengalami sakit komplikasi yang membingungkan dan tentunya biaya mahal. Silahkan jika memang mau merokok, mau mendukung kretek sebagai warisan negeri, tetpi saya cuman ingin mewariskan kesehatan pada anak cucu saya, bukan mewariskan penyakit komplikasi yang membuat repot anak cucu dan mengakhiri hidup dengan kalah oleh kesehatan diri sendiri yang hancur dari kenikmatan masa lampau dari yang dulu kita perjuangkan utuk terus kita hisap dan sesap. Silahkan teliti hingga menjadi tembakau itu komoditas yang menggiurkan namun, merusak paru-paru anak-anak yang sedang bertumbuh, walau saya percaya bahwa di tembakau atau nikotin juga ada zat yang bisa menghancurkan sel kanker tetapi sangat lucu jika sel kanker itu mati tetapi paru-paru penuh dengan sisa pembakaran hasil menghisap asap rokok ? apakah kesehatan itu soal selera ? apakah sehat itu selera, tergantung pada seseorang seperti memilih makan kesukaannya ? kesehatan adalah rahmat atau anugrah dari Tuhan jika orang-orang sadar tentang itu, memang jika perlu dikaji kesehatan adalah bukan cuman anugrah dari tuhan saja tetapi usaha kita menyikapi anugrah itu sendiri. Bagaimana pula kesehatan tidak bisa kita tentukan sampai kapan kita sehat dan seberapa lama kita sakit, satu hari ? dua hari ? atau sebulan, dua tahun atau puluhan tahun kita sakit ? entah jika orang tua saya merokok dan merokonya dengan keretek yang dilinting sendiri lalu orang tua saya bisa kapan dan dimana ia sakit lalu seberapa lama ia sakit, itu sebuah kelucuan yang manusia ciptakan untuk menjadikan dirinya seperti Tuhan, mengatur segal-galanya sendirian. Silahkan berkampanye bahwa rokok memiliki manfaat namun jangan wariskan ketidak-bermanfaatan rokok pada anak cucu kita jika kau tahu akhirnya hanya ketidak-bermanfaatan ujungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar