
Kaitannya, Ketika malam itu saya menabrak pak pensiunan PNS
yang entah kenapa bisa saya tabrak dan saya lah yang menjadi tersangka
kesalahannya. Peran ini cukup membutuhkan acting dari actor yang bisa sabar dan
penuh dengan uang di dompetnya, dermawanlah pokoknya. Sedangkan peran yang di
seberangnya adalah antagonis yang cukup mengandalkan sifat kapitalisme yaitu
mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyak dari insiden epic malam itu, yah
pemeran tersangka penabarak meminta keadilan melalui musyawarah mufakat yang
bertujuan untuk berdamai, namun apa daya pemeran korban yang atagonis
mengartikan damai dalam arti kapitalis dengan membayar sejumlah uang
ratusan ribu pada detik itu juga untuk meloloskan dari rasa kesalnya karena di
tabrak oleh saya ini pemeran tersangka yang sabar haha, lalu kenapa pula saya
tidak memiliki cukup uang untuk melunasi saat itu juga dan perdamaian hanya
bisa di lalui melalui jalur transaksional uang, bukan melalui kebijaksaan
selaku orang tua pada pemeran korban antagonis, dari titik ini saya sudah
merelakan saja karena musyawarah berubah jadi transaksional belaka, perdamaian
pun berubah menjadi lembaran uang berwarna merah tiga lembar yang sebagian saya
pinjam dari teman. Dan anehnya pemeran korban tabrak yang antagonis tersebut
mengatakan seperti ini “iya mas saya juga pernah kost dan jadi anak kuliahan”
perkataan itu muncul saat saya mencoba bertransaksi dan berkata “Pak kalau saya
lunasi sekarang uang saya tidak cukup, saya mahasiswa yang buat makan pun masih
minta orang tua dengan jatah pas-pasan, jika membayarkan semua itu sekarang,
mau makan apa saya besok Pak ?”. memang saya yang menabarak karena saya
salah, saya kurang memperhatikan jalan sekitar karena sedikit meleng dan
sedikit banyak keder mencari jalan, tetapi keadilan itu tak nampak pada korban
yang notabene orang tua ber anak tiga yang umurnya 50an tahun namun tak jua
bisa mengerti dan memaklumi. Kata itu terus di ulanginya hingga tiga kali kata
itu menyakitkan bagi saya korban yang juga mencoba bijak namun kebijakan itu
bukanlah akhir, “iya mas saya juga pernah kost dan jadi anak kuliahan” lah
terus bapak tetep minta saya bayar kerusakan motornya secara full dan detik itu
pula dengan opsi jika sekarang tidak adak sejumlah uang tersebut perdamaian
kita di pending sampai besok pagi dan kita bertemu di bengkel sekalian benerin
motor dia orang, lah motor saya juga rusak lah Pak tetapi apakah bapak juga
memikirkannya ? tentu tidak lah kan saya yang nabrak toh saya yang salah toh,
salah sendiri nabrak. Nyesek nih hati melihat perdamaian hanya diartikan dengan
sejumlah uang dan musyawarah mufakat menjadi transaksional belaka yang satu
pihak dirugikan tanpa bisa menawar disebabkan kesalahan yang tak termaafkan.
Fvck this old man !.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar