Minggu, 29 Mei 2016

Pemuda terbodoh !

Pertama kali saya naik merbabu,lampau.
Aku adalah pemuda yang paling bodoh diantara pemuda-pemudi yang juga bodoh semua. Selama ini aku meragukan kepribadian diri sendiri karena teracuni berita-berita buruk dari social media pun televisi. Namun benar dunia ini bukan cuman sekadar social media dan televisi, dunia ini ternyata lebih dari yang kita lihat, kita dengar dan kita pikir atau rasakan. Indonesia ini adalah hal-hal yang tidak absolute dan stagnan namun Indonesia berjalan dengan atau tanpa relawan-relawan ganteng dan modis pun Indonesia akan tetap lestari dan terpuji seperti anak perempuan kelas empat sekolah dasar umur 11 tahun yang kata teman saya ia bekejaran dengan waktu, bermain-main dengan masa lalu dan masa depannya. Puji lestari, Zulfa, Sarno dan entah siapa lagi saya belum mampu menghafal satu persatu, memang sulit menjadi penghafal anak-anak yang masih polos, kita teralihkan dari dunia yang biasa sehari-hari kita jalani. Entah itu satu kata yang terngiang di kuping, saya menulis dengan rasa entah.


Pada awalnya saya adalah peragu yang ulung, keyakinan yang jelas terpapar setiap hari pada diri sendiri pun masih saya ulik lagi hingga ragu, tetapi setelah keraguan itu sirna maka hanya ada sebuah keyakinan yang membludak-bludak, optimisme, percaya diri dan rasa bangga itu aku rasa tidak mahal lagi dan tidak sulit lagi untuk kita lakukan. Aku dan kami adalah orang yang kesepian setelah lama berbincang hanya dengan diri sendiri dan lupa bahwa masih ada alam dan bocah-bocah kecil yang entah mengapa mau berteman dan bermain dengan kami ini.
Pertama kali naik ke lereng merbabu, sebuah dusun.
Gamabaran sebuah dusun di lereng merbabu.

Wisuda bikin macet ajah nih !

Teman sekelas walau tak lengkap juga sih.
Hmm rasanya banyak banget yang up-load foto di media social soal wisuda bahkan sampai dengan quote berenda-renda dan meliuk-liuk, lucu juga melihatnya kadang suka geli-geli sendiri melihat tingkah laku pemuda kini ini. Memang secara materil dan intelektual apalah saya yang hanya warga biasa dan pemuda biasa di negeri maha kaya ini, sebenarnya saya pun tak boleh memprovokatif soal orang-orang yang merelakan wisudanya hanya dengan suka cita dan berfotoria dengan di up-load ke medsos, siapa pula saya menyinggung mereka. Tetapi saya berfikir dan merenungkan hal tersebut sudah lama dan terus mengamati perjalanan dari euphoria para wisudawan ini melalui medsos. Dari sini mungkin perbedaan antara penyindir dan pengkritik itu memang berbeda satu sama lain, sebab menyindir itu karena kita tidak percaya diri lalu kita mencari celah dari diri seseorang atau suatu hal yaitu keburukan atau hal-hal yang menurut kita anggap aib dan apapun itu, sedangkan pengkritik adalah hadir karena mereka merasa gerah dan resah yang memunculkan rasa ingin beropini, berargumentasi soal apakah memang begitu caranya atau memang begitu seharusnya atau tidakah ada yang lebih baik lagi selain itu ? dari rasa resah lalu muncul rasa penasaran yang mewujud menjadi pertanyaan dan opini atau argumentasi kepada objek yang di tuju.

Plastic import atau brandnya yang import ?

Dipikir-pikir ternyata pengeluaran untuk servis kendaran bermotor, berbahan bakar minyak bumi, berbodi plastic bikin sakit dompet. Apalagi jika kita habis nabrak dan harus ganti spare-partnya hmm lumayan dah bisa dapet buku bacaan sepuluh biji deh, di baca sebulan gak rampung-rampung tuh. Tapi apa daya kita sebagai bangsa belum bisa atau belum berani membuat brand sepeda motor 100% murni aseli paten dari Indonesia, kita msih menguntit pada brand luarnegeri yang dalih produksinya di dalam negeri namun barndnya tetep dari luar ya enak deh yang punya brand, kita ngerakit sendiri, onderdil sebagian buatan dalam negeri namun yang dipajang brand bangsa luar, kalau brand sendiri kan setidaknya kita bisa bangga pas nabarak brand luar tuh, bisa bandingin plastic mana yang bagus hehe. Aduh ini gimana yah orang-orang kok ga ada yang riset dan mengembangkan produknya sendiri lalu bisa jadi industry atau minimal jadi kebanggaan bangsa gitu loh gaes, mulai dari sepatu, kaos, celana dan tas kok ya pakai brand luar negeri ? apakah brand local atau brand nasional itu ga bagus-bagus yah ? yah ternyata kita mampu, skill kita mumpuni, bahan melimpah, riset banyak yang mendalaminya namun tak terapresiasi dan izin lumayan runyam dengan alur birokrasi yang berbelit-belit kaya belitan ular python tuh. Jadi bijaknya tak harus ada yang di salahkan namun bencinya ini Negara sendiri kok produk nasional dibikin susah, hey !.

Rabu, 25 Mei 2016

Kurangnya minat baca mengajak pada fanatisme yang destruktif

Membaca hmm mungkin suatu hal yang masih langka dalam territorial kebudayaan di negeri ini, budaya literasi ini jomplang dengan fanatisme yang membutakan. Ketika kita tidak mengulik lagi sebuah ajaran agama hanya mempercayainya saja tanpa pernah berfikir untuk membuktikannya walau bukan berarti dengan pembuktian kita menyangsikan wahyu Tuhan yang memang sudah tidak bertumbuh lagi dan itu paten, tidak bisa kita tambahi dan kurangi atau sekadar mengkritisinya namun yang harus dikritisi adalah tafsir-tafsir manusia yang didapat dari wahyu Tuhan itu karena tafsir itu rentan dan tidak absolute seperti wahyu yang tak terelakan. Kembali budaya literasi, bahwa kenyataan orang tua masih ada yang melarang kita untuk bebas berfikir dan mebaca.

Pengganggu saat zikir ku

Pada zamannya kita berkumpul hanya untuk bercerita soal pasangan hidup yang entah dimana keberadaannya, ada yang berkelakar sambil berpuitis dan ada yang optimis sekaligus pesimis karena realita dan idealism berbenturan satu sama lain. Pada zaman ini kita berujar bahwa sesuatu yang kita anggap kebaikan harus disegerakan dan lainnya beranggapan bahwa hal yang terburu-buru adalah hal yang sangat mungkin untuk menjadi sumber permasalahan jika kita tidak biasa mempersiapkan dengan cepat dan lengkap, walau itu dalam konteks kebaikan sekalipun. Pada masa ini merupakan pencarian yang cukup rumit dan complicated sebab siapa yang tahu masa depan itu secara gamblang, namun obrolan kami pun hanya menjadi humor di kala bertemu dalam sebuah obrolan, setidaknya kita masih bisa berbincang walaupun kita tidak tahu kelanjutan kisah dari pasangan yang di komedikan kadang pula jadi bahan humor yang menurut saya sanggup menyinggung teman-teman sekitar. Tapi jika tersinggung memang teman tersebut adalah orang yang kurang percaya diri dengan keyakinannya sehingga mudah terpercik walau itu humor yang di bawakan bukan untuk menghina atau menyerang sekadar dinamika dalam obrolan, toh jika memang kurang berkenan bisa balik dengan membalas humor juga.

Kopi proletar dan kopi kapitalis

Kopi ada dua jenisnya yang saya nilai dari sudut proletar dan kapitalis, ketika itu ada sebuah warkop yang menampung dua kopi tersebut dalam satu meja dengan obrolan sebagai bahan pemanfaatan waktu, karena segala sesuatu diciptakan dan tercipta pasti memiliki manfaat dan peranannya masing-masing. Kadang dari kopi proletar berceloteh bahwa kopi original kini sepi pelanggannya kebanyakan sudah beralih ke kopi-kopi model artificial yang lebih mengedepankan permukaan dari pada rasa atau khas produk local, kopi kapitalis menyahuti bahwa bukan salah mu menjadi kopi yang proletar atau kopi milik rakyat asli suatu daerah atau kopi murni tanpa campuran beras dan jagun kaya saya ini, yang bodoh adalah ketika orang-orang negeri ini terlalu ribut untuk masalah artificial alias masalah fisik tapi lupa untuk memaknai semua yang mereka buat atau akan mereka lakukan. Tetaplah jadi dirimu yang proletar karena ketika saya menjadi kopi kapitalis tanpa ada teman yang proletar akan sulit untuk menjadi gunjingan khalayak pecinta kopi di negeri pertiwi ini. Kopi proletar bersedih dan berkata, naïf memang keadaan kita ini kini hanya karena beberapa kebutuhan, hanya karena kebutuhan mendasar yang nyasar entah untuk apa kita berdua jadi sebuah gunjingan yang memang tak enak di dengar.

Dunia lelaki tak dimiliki wanita

Dunia, dimata lelaki dan wanita pun sudah berbeda. Ketika lelaki memiliki dunianya sendiri maka bisa saja dunia itu tidak pernah berubah hanya ada satu nama dalam hatinya, mungkin tepatnya yaitu hanya ada satu wanita yang terus ia harapkan hingga waktu dimana itu benar-benar tejadi. Sehingga ada sebagian kalangan wanita yang menjadi korban dari keriangan dunia lelaki tersebut, dunia itu terlalu riang hanya untuk mendalami satu wanita yang dulu sampai sekarang ia impikan tanpa bisa direalisaikan karena untuk sekadar berkata suka itu tak diberi kesempatan oleh sang waktu. Pada akhirnya lelaki tersebut hanya mendapatkan sebuah kehampaan dalam dirinya tenggelam dalam sanubari masa lalu dan kini yang tak pernah ingin dirubahnya. Lelaki tersebut hanya mendapat sisa-sisa kebahagiaan dalam hidup ini, hingga ia mampu terbangun dari keriangan dunianya.

Petani yang mencuri sandal jepit ku

Beberapa bulan terakhir setiap akhir pekan saya selalu menjelajah entah kemana mencari sesuatu yang mungkin bisa bermakna untuk dikenang dan diceritakan untuk anak cucu kelak. Tetapi kelucuan itu datang bukan dari tempat-tempat jauh yang seperti saya angankan dan bayangkan, kelucuan itu datang dari rumah kontrakan saya di pinggiran kota kenamaan yang apa adanya ini. Pulang lah saya dari petualangan yang entah ke berapa telah tayang pada layar televisi di dalam sanubari jiwa ini,

Sabtu, 25 April 2015

Jiwa yang sunyi


Judul    : Jiwa yang sunyi
Tahun  : 2015
Taken by Cannon 600D

Kegilaan merupakan jalan menuju ketidak-egoisan. Gilalah dan ungkapkan semua yang terselubung “kewarasan”. Hakikat kehidupan adalah berusaha untuk mengungkap rahasia-rahasia tersebut, dan kegilaan merupakan jalan satu-satunya.

Sehat tanpa rokok setelah makan !


Judul   : Sehat tanpa rokok setelah makan !
Tahun  : 2015
Edited by photoshop cs5

Para ilmuan telah mentapkan dengan percobaan bahwa merokok satu batang setelah makan, setara dengan merokok 10 batang pada waktu yang lain. Artinya kerusakan dan penyakit yang diakibatkan oleh satu batang rokok setalah makan, sama dengan kerusakan dan penyakit yang diakibatkan 10 batang rokok. Ini sudah menjadi masalah tersendiri dalam sosial masyarakat di Indonesia yang menganggap bahwa merokok adalah hal biasa dan terutama saat setelah makan biasanya mereka merokok denagan leluasa tanpa memikirkan kesehatan diri mereka sendiri, walaupun mereka sudah tahu merokok itu tidak sehat tetpi karena rasa candu mereka menjadi orang-orang yang apatis terhadap kesehatannya sendiri. Sehat tanpa rokok setelah makan adalah hal kecil yang coba saya gaungkan dalam karya poster ini.