Tukang becak yang tak ikut shalat Jumat. Dari kecil hingga
sekarang saya kalau di rumah pasti shalat jumat di sebuah masjid di daerah kampung
saya yang agak masuk sedikit, masuk gang dari jalan utama atau jalan raya, nah
di pinggir jalan raya ada sekitar empat atau tiga becak yang parkir dengan di
dalam becaknya tidur-tiduran bapak tukang becak saat peristiwa rutin shalat
jumat saya dan bapak saya bersama jamaah lainnya di masjid tersebut. Dari situ
saya tertarik untuk berfikir dan merenungkan bahwa kaya miskin itu tidak selalu
berkorelasi dengan apa yang kita Imani tetapi dengan apa yang kita lakukan
setelah kita iman pada Tuhan kita. Apakah Tuhan kita menjamin kita bisa kaya
setelah kita beriman kepada-Nya ? tentu itu adalah Tuhan yang ada dalam logika,
Tuhan tidak perlu iman kita Tuhan tidak
perlu kita untuk menyembahnya, karena Tuhan bukan seorang manusia yang
gandrung akan popularitas dan ketenaran (duniawi). Manusia beriman atau tidak
Tuhan masih tetap ada dan juga tiada dalam kehidupan manusia.
![]() |
Sedang tidak sempat riset dan hunting foto untuk ilustrasi |
Tukang becak tidur saat shalat jumat padahal masjid hanya
berjarak sekitar 20 meter, lalu tukang becak lebih memilih ngetem di becaknya
dari pada masuk ke masjid. Karena pada dasarnya keimanan itu di hati dan amalan
itu perilaku bukan tutur berlalu. Sebab sulit sekali untuk ber-amal karena
beriman itu sangatlah intim dan amal itu bukti di dunia ini karena dunia ini
memiliki dimensi visual atau fisik, memiliki kanal social dan masyarakat yang
di sebabkan adanya raga dan benda. Jika ruh ini telah beriman maka fisik ini
perlu beramal sebagai pembuktian, sebagai syarat formal adanya kehidupan
duniawi.
Shalat jumat pun selesai dengan rasa kantuk yang amat maka
saya membonceng motor bersama bapak saya menuju rumah lalu di rumah saya tak
ngantuk lagi karena saya mencoba menulis dan memenuhi beberapa hawa nafsu yang
masih normal yaitu keinginan menullis dan berimaji hanya dengan tembok dalam
diri ini, tembok yang menghalangi terik matahari menyengat raga ini.
Tak perlu bertanya soal penulis yang masih selalu lemah
dalam ber-amal karena konteks tulisan ini bukan untuk membahas baik buruk amal
seseorang namun membahas apa yang terjadi dalam shalat jumat antara saya dan
bapak saya juga jamaah lainnya di masjid tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar