Senin, 30 Mei 2016

Zaman masih nyubi

Zaman masih mencari apa itu mengerti diri sendiri, sekarang
juga masih sih hehe. . .
Saat itu saya berjalan tanpa ragu lalu ragu lagi karena memang saya masih nyubi, masih bodoh dalam tingkatan terbodoh, kini masih lumayanlah bodohnya mendekati kebodohan yang hakiki. Setelah semua telah mendekati kebodohan yang hakiki itu saya merasa semua hal itu hanyalah ilmu yang membuat hampa akan lezatnya hal-hal yang tidak materil. Sesuatu yang kasat mata dalam diri ini mungkin berusaha mewujud, lalu jika hal yang kasat mata itu mewujud bagaiman tubuh ini ? apakah akan saya tinggalkan begitu saja, teronggok di dataran rendah ?
Hah jadi ngelantur begini, sebab ini memang pesan pelantur diri dari hal-hal yang stagnan. Kini lukisan itu telah hilang sebab saya tak menyimpannya. Namun semua kenangannya ada dalam jiwa ini yang kasatmata namun ingin mewujud, ingin merasakan sakitnya berekspresi dalam dunia kebendaan. Selamatkan masa atau zaman nyubi setelah anda bisa berkembang dan bertambah agak gendut, karena terlalu banayak menelan benda-benada lezat.

Sadar literasi sadar kesehatan, ah masa sih ?

Anak-anak rentan terpapar asap rokok, apakah kalian mau anak
kalian menjadi perokok ?
Banyak yang lulus cepat dan memiliki nilai tinggi ada pula yang sampai professor atau ahli dibidangnya namun yah masih ada juga yang bisa di sogok bahkan ada yang masih berlagak seperti orang yang tak pernah makan bangku sekolahan, melihat dari masih banyaknya anak-anak yang membeli rokok dengan bebasnya di warung-warung samping sekolahan pada waktu istirahat dan dengan santainya menunggu bus sambil menghisap rokok. Kadang para orang yang sudah sadar literasipun masih memiliki kelakuan untuk tidak peduli dengan kesehatannya bahkan dengan dampak apa yang telah mereka hasilkan dari perilaku merokok yang bebas dimana saja, di institusi pendidikan, di pemerintahan, di rumah, dimana pun itu ketika itu jua ada anak-anak yang menjadi korban perilaku dari kebiasan merokok. Budaya literasi tidak diikuti dengan pemikiran yang progressive. Ada yang bilang bahwa merokok itu bukan masalah pemikiran yang sudah sadar literasi atau memiliki budaya literasi namun merokok itu soal candu yang memang kompulsif di otak yang membuat otak jadi ketagihan atau entah lah saya masih belum benar-benar paham atau susah mencari kebenaran fakta yang soal rokok ini. Lalu apa pula itu budaya literasi ? buat apa pula mengurusi anak-anak yang di bawah umur untuk tidak merokok ? mengapa pula saya menulis dan berkampanye soal rokok ? toh semua itu karena negeri ini di cengkram oleh industry rokok yang pemilik rokoknya pun tidak merokok, biasanya gitu sih yang memiliki industry sudah tidak lagi butuh apa yang industry itu hasilkan, pemilik tersebut memilih menyendiri dan menikmati dunia yang sesungguhnya yang tidak ada kaitannya dengan industry.

Ada kantong plastic di dalam kantong plastic

Itu sandal jepit yang diplastikin.
Zaman depan saya menyimpan kantong-kantong plastic yang di remas-remas hingga menjadi gumpalan, lalu gumpalan itu berjumlah puluhan, ratusan dan ribuan, entah berapa lagi tak pernah kuhitung hingga satu kantung itu penuh dengan gumpalan-gumpalan plastic, otak kanan pun menggumpal dan otak kiri di remas-remas untuk menggumpal. Apakah ada kantong plastic yang berada di dalam kantong plastic ? sungguh ini lucu dan pilu, apa kita bisa tertawa dan terbahak untuk kantong-kantong itu atau plastic itu yang telah memilih kita untuk terus ditertawakan dengan lawakan plastic yang menggumpal, menyumpal lalu menggunung. Sampai rumah kita pun adalah gumpalan plastic, kasur empuk kita pun gumpalan-gumpalan, darah kita menggumpal jadi plastic. Oh iya kita adalah yang ditertawakan oleh mereka para penikmat, oleh gumpalan plastic yang selalu baru karena hanya untuk satu kali pakai. Sudah saatnya kita membuat menu baru pada café-café tempat nongkrong pemuda, menu baru yang berjudul nasi dari gumpalan plastic, es dari gumpalan plastic. Lama-lama manusia punah karena pemudanya mati terlalu kenyang memakan gumpalan plastic. Akhirnya penduduk bumi itu adalah para gumpalan plastic. Selamat atas kemenangan dari invasi gumpalan plastic, selamat datang peradapan  plastic.

Pemuda bodoh di negeri kaya

Saat itu aku berbincang dengan hipo.
Hiduplah pemuda bodoh di negeri nan kaya, ia adalah seorang yang peragu namun ia tahu kenapa menjadi peragu sebab ketika ragu maka akan muncul sebuah pertanyaan-pertanyaan yang mencoba dipikirkan walau pemuda itu bodoh tetapi ia berfikir kenapa dan bagaimana ia bisa ragu. Keraguannya terhadap cinta, terhadap pemaknaan seseorang tentang cinta yang masih terbelenggu segumpal besi yang mengeras dari yang cair. Pemuda bodoh lalu juga peragu, ia sudah memberikan segalanya dan untuk seseorang ia mampu bersabar, walau ia tahu sabar saja hanya akan menghasilkan ketidak mungkinan dan itu adalah sebuah keniscayaan bagi peragu yang bodoh namun sanggup berfikir. Katanya ia memiliki sebuah kelebihan untuk memulai semua ini, sebuah modal untuk terus mengasihi. Matanya tidak polos lagi semenjak ia mengenal yang di kasihinya, ia mulai beranjak menjadi seseorang yang bersikap dan berani untuk mengungkap bahwa semua itu adalah masalah yang sama dengan apa yang jua dialami oleh orang lain di bumi ini.

Terkungkung dalam kebebasan dan kemerdekaan

Waktu itu di solo lagi mural bareng, berekspresi bareng gitu sih.
Pemuda, seorang yang pantang menyerah, seseorang yang penuh dengan gairah. Petualangan kadang adalah hobinya, kadang humor adalah prinsip hidupnya. Suatu ketika pemuda adalah pemimpinnya, memimpin negeri. Pemuda awal dari kebebasan dan kemerdekaan dan pemuda pula yang pertama kali untuk memberontak kebebasan dan kemerdekaan itu. Suatu purnama pemuda bernyanyi karena hatinya sunyi, jiwanya melayang, mengambang diatas cermin bulan, cermin dari langit purnama. Sesuatu yang garing menjadi pemuda yang terkungkung oleh kemerdekaan dan kebebasan. Pemuda yang hingga ajalnya terjebak pada pemikirannya. Sungguh lautan dan lembah pegunungan adalah tempat bertualang untuk belajar apa arti kemerdekaan itu. Bukan hanya mejelajah melalui kertas dan maya yang terbarukan. Malas kaki untuk sekadar menjelajah, untuk sekadar mampir dan berkata bahwa dunia ini cukup untuk kita semua bukan untuk satu orang saja. Ah kenapa pula dunia ini tercipta begitu luasnya namun pemudanya terkungkung dalam kemerdekaannya sendiri terkungkung karrena malas melangkah. Lihatlah hal yang indah sebelum kita merasa bahwa dunia ini cuma sekadar kota yang gersang. Setelah selesai melangkah apakah itu sudah cukup ? apakah kita bisa bahagia ? lalu apa itu melangkah dan bahagia kenapa kita jua menajdi pemuda di tanah yang indah ini. Rasa-rasanya kelucuan dalam kebahagiaan dan kebebasan adalah murni bukti dari segaris citra foto satelit penjelajah luar angkasa.

Minggu, 29 Mei 2016

Pemuda terbodoh !

Pertama kali saya naik merbabu,lampau.
Aku adalah pemuda yang paling bodoh diantara pemuda-pemudi yang juga bodoh semua. Selama ini aku meragukan kepribadian diri sendiri karena teracuni berita-berita buruk dari social media pun televisi. Namun benar dunia ini bukan cuman sekadar social media dan televisi, dunia ini ternyata lebih dari yang kita lihat, kita dengar dan kita pikir atau rasakan. Indonesia ini adalah hal-hal yang tidak absolute dan stagnan namun Indonesia berjalan dengan atau tanpa relawan-relawan ganteng dan modis pun Indonesia akan tetap lestari dan terpuji seperti anak perempuan kelas empat sekolah dasar umur 11 tahun yang kata teman saya ia bekejaran dengan waktu, bermain-main dengan masa lalu dan masa depannya. Puji lestari, Zulfa, Sarno dan entah siapa lagi saya belum mampu menghafal satu persatu, memang sulit menjadi penghafal anak-anak yang masih polos, kita teralihkan dari dunia yang biasa sehari-hari kita jalani. Entah itu satu kata yang terngiang di kuping, saya menulis dengan rasa entah.


Pada awalnya saya adalah peragu yang ulung, keyakinan yang jelas terpapar setiap hari pada diri sendiri pun masih saya ulik lagi hingga ragu, tetapi setelah keraguan itu sirna maka hanya ada sebuah keyakinan yang membludak-bludak, optimisme, percaya diri dan rasa bangga itu aku rasa tidak mahal lagi dan tidak sulit lagi untuk kita lakukan. Aku dan kami adalah orang yang kesepian setelah lama berbincang hanya dengan diri sendiri dan lupa bahwa masih ada alam dan bocah-bocah kecil yang entah mengapa mau berteman dan bermain dengan kami ini.
Pertama kali naik ke lereng merbabu, sebuah dusun.
Gamabaran sebuah dusun di lereng merbabu.

Wisuda bikin macet ajah nih !

Teman sekelas walau tak lengkap juga sih.
Hmm rasanya banyak banget yang up-load foto di media social soal wisuda bahkan sampai dengan quote berenda-renda dan meliuk-liuk, lucu juga melihatnya kadang suka geli-geli sendiri melihat tingkah laku pemuda kini ini. Memang secara materil dan intelektual apalah saya yang hanya warga biasa dan pemuda biasa di negeri maha kaya ini, sebenarnya saya pun tak boleh memprovokatif soal orang-orang yang merelakan wisudanya hanya dengan suka cita dan berfotoria dengan di up-load ke medsos, siapa pula saya menyinggung mereka. Tetapi saya berfikir dan merenungkan hal tersebut sudah lama dan terus mengamati perjalanan dari euphoria para wisudawan ini melalui medsos. Dari sini mungkin perbedaan antara penyindir dan pengkritik itu memang berbeda satu sama lain, sebab menyindir itu karena kita tidak percaya diri lalu kita mencari celah dari diri seseorang atau suatu hal yaitu keburukan atau hal-hal yang menurut kita anggap aib dan apapun itu, sedangkan pengkritik adalah hadir karena mereka merasa gerah dan resah yang memunculkan rasa ingin beropini, berargumentasi soal apakah memang begitu caranya atau memang begitu seharusnya atau tidakah ada yang lebih baik lagi selain itu ? dari rasa resah lalu muncul rasa penasaran yang mewujud menjadi pertanyaan dan opini atau argumentasi kepada objek yang di tuju.

Plastic import atau brandnya yang import ?

Dipikir-pikir ternyata pengeluaran untuk servis kendaran bermotor, berbahan bakar minyak bumi, berbodi plastic bikin sakit dompet. Apalagi jika kita habis nabrak dan harus ganti spare-partnya hmm lumayan dah bisa dapet buku bacaan sepuluh biji deh, di baca sebulan gak rampung-rampung tuh. Tapi apa daya kita sebagai bangsa belum bisa atau belum berani membuat brand sepeda motor 100% murni aseli paten dari Indonesia, kita msih menguntit pada brand luarnegeri yang dalih produksinya di dalam negeri namun barndnya tetep dari luar ya enak deh yang punya brand, kita ngerakit sendiri, onderdil sebagian buatan dalam negeri namun yang dipajang brand bangsa luar, kalau brand sendiri kan setidaknya kita bisa bangga pas nabarak brand luar tuh, bisa bandingin plastic mana yang bagus hehe. Aduh ini gimana yah orang-orang kok ga ada yang riset dan mengembangkan produknya sendiri lalu bisa jadi industry atau minimal jadi kebanggaan bangsa gitu loh gaes, mulai dari sepatu, kaos, celana dan tas kok ya pakai brand luar negeri ? apakah brand local atau brand nasional itu ga bagus-bagus yah ? yah ternyata kita mampu, skill kita mumpuni, bahan melimpah, riset banyak yang mendalaminya namun tak terapresiasi dan izin lumayan runyam dengan alur birokrasi yang berbelit-belit kaya belitan ular python tuh. Jadi bijaknya tak harus ada yang di salahkan namun bencinya ini Negara sendiri kok produk nasional dibikin susah, hey !.

Rabu, 25 Mei 2016

Kurangnya minat baca mengajak pada fanatisme yang destruktif

Membaca hmm mungkin suatu hal yang masih langka dalam territorial kebudayaan di negeri ini, budaya literasi ini jomplang dengan fanatisme yang membutakan. Ketika kita tidak mengulik lagi sebuah ajaran agama hanya mempercayainya saja tanpa pernah berfikir untuk membuktikannya walau bukan berarti dengan pembuktian kita menyangsikan wahyu Tuhan yang memang sudah tidak bertumbuh lagi dan itu paten, tidak bisa kita tambahi dan kurangi atau sekadar mengkritisinya namun yang harus dikritisi adalah tafsir-tafsir manusia yang didapat dari wahyu Tuhan itu karena tafsir itu rentan dan tidak absolute seperti wahyu yang tak terelakan. Kembali budaya literasi, bahwa kenyataan orang tua masih ada yang melarang kita untuk bebas berfikir dan mebaca.

Pengganggu saat zikir ku

Pada zamannya kita berkumpul hanya untuk bercerita soal pasangan hidup yang entah dimana keberadaannya, ada yang berkelakar sambil berpuitis dan ada yang optimis sekaligus pesimis karena realita dan idealism berbenturan satu sama lain. Pada zaman ini kita berujar bahwa sesuatu yang kita anggap kebaikan harus disegerakan dan lainnya beranggapan bahwa hal yang terburu-buru adalah hal yang sangat mungkin untuk menjadi sumber permasalahan jika kita tidak biasa mempersiapkan dengan cepat dan lengkap, walau itu dalam konteks kebaikan sekalipun. Pada masa ini merupakan pencarian yang cukup rumit dan complicated sebab siapa yang tahu masa depan itu secara gamblang, namun obrolan kami pun hanya menjadi humor di kala bertemu dalam sebuah obrolan, setidaknya kita masih bisa berbincang walaupun kita tidak tahu kelanjutan kisah dari pasangan yang di komedikan kadang pula jadi bahan humor yang menurut saya sanggup menyinggung teman-teman sekitar. Tapi jika tersinggung memang teman tersebut adalah orang yang kurang percaya diri dengan keyakinannya sehingga mudah terpercik walau itu humor yang di bawakan bukan untuk menghina atau menyerang sekadar dinamika dalam obrolan, toh jika memang kurang berkenan bisa balik dengan membalas humor juga.