Kamis, 02 Juni 2016

Postcolonial, antara adanya timur dan barat.



Postkolonialisme ? ada yang tahu itu mahkluk apaan ?
Hmm saya juga baru dengar nih gaes, tapi menarik nih pas saya dengar-dengar ceritanya.
Jadi gini postkolonialisme itu katanya kajian soal fenomena penjajahan yang terjadi di era sesudah penjajahan. Loh kok ada penjajahan padahal udah merdeka udah ga jamannya perang ngelawan “walanda” ? ini aneh banget absurd, eitss nanti dulu gaes ini baru awalan aja, nih ceritanya.
Postkolnialisme itu gini nih, kajian tentang penjajahan model baru (new imperialism) yang terjadi mulai abad ke-20 sampai sekarang, yang dialami bangsa-bangsa Timur, oleh Barat. Modus operasinya dengan menggunakan media yang utama adalah dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan (bersifat persuasif). Itu copas dari slide shownya si pak dosen saya haha, bahasanya formal banget yak haha. Jadi melalui ilmu pengetahuan dan budaya orang-orang “walanda” bikin istilah Timur dan Barat atau bisa di sebut politik geografis yang mana timur identik dengan keterbelakangan dan kemiskinan lalu barat adalah segala sumber kebenaran dan ilmu pengetahuan juga budaya yang maju. Asik yak cara mereka main perang-perangannya hehe, ga main fisik tapi mainnya telepati lewat politik geografis atau ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Colonel kretek dan jenderal putihan

save ilustrasi untuk ikut berkampanye
Di sebuah kuil di lembah terpencil jenderal putihan menyuruh ajudannya untuk memanggil colonel kretek agar segera mendarat ke lembah untuk menemuinya di kuil tersebut, karena ada sesuatu yang ingin di obrolkan terkait hari penting kemarin dan besok-besok yang akan datang, seminggu setelahnya colonel kretek hadir dengan tergesa-gesa sebab ia berlarian dan menunggang segala macam kendaraan dengan menyamar menjadi seekor nyamuk dan menyamar sebagai dirinya sendiri. Jenderal putihan bertanya apakah tidak ada kendaran tercepat dalam pasukan tempur mu itu ? colonel kretek asal menjawab, yah namanya atasan kan biar keren saya pakai saja nih kedua kaki, itung-itung lari marathon bro jendral. Jenderal menanggapi, lu sih sok-sokan ngebelain bawahan lu yang pada korup. Colonel menjawab, lah situ juga yang njrumusin tuh bawahan pada korup bro. jenderal, eh iya yah.

Lalu obrolan pun di mulai :

Jenderal putihan : sampai kapan kamu mau mempertahankan dalih menyelamatkan pasukan kretek mu yang mulai absurd masa depannya ?

Colonel kretek : ya lu sih ga ngasih gue kesempatan buat perluasan lahan dan pasar !

Jenderal putihan : ini nih, kan lu gue suruh masuk jajaran jenderal malah mangkir pas dilantik ya gue ga kasih jatah di sini, jadi susah kan sekarang. . . 

Colonel kretek : bukannya gue gak mau tapi kalau ga ada yang pura-pura cinta ma kretek siapa yang menutupi industry lu yang mulai kolapse juga, apa tuh sebutannya ? gue lupa. . .
Jenderal putihan : sunset industry ???

Colonel kretek : nah iya itu maksud gue, ini gue rela susah-susah nimbrung ma pasukan kretek biar keren aja masih ada yang dukung nih pada.

Jenderal putihan : iya gue tahu maksud lu, lu minta gue bagi-bagi hasil kan ? gampang itu lah tapi ni industry kan juga udah senja kondisinya, yang gue pikir bikin apa lagi yah setelah semua ini rampungan ?

Colonel kretek : ah elu gitu aja bingung, ni tempat kan katanya kaya dan luas tinggal pilih aja apa yang cocok beres kan ?

Jenderal putihan : kongkritnya dong ?

Colonel kretek : yah apa yah belum kepikiran apa sih kongkritnya, pokoknya gampang deh selama tuh pasukan-pasukan bisa kita bohongin dan kita adu domba itu jurus ampuh bikin bisnis baru di tempat ni.

Jenderal putihan : okeh lah itu bisa diatur, sekarang kita sesap dulu nih sebungkus buat lu dari pabrik gue.
Colonel kretek : okeh gue juga bawa satu pack nih dari rumah gue, mari ibadah sesap di mulai.

Jenderal putihan : okeh syipp. . .

Itulah percakapan absurd dua mahluk alien atau entah mahluk apa saya kurang bisa menceritakan lewat kata-kata haha. Kenapa pula saya mulai tulisan ini dengan percakapan itu ? pengin aja sih sekali-kali bikin dialog absurd biar agak beda sedikit, sedikit gendut ga masalah lah yah haha.
Kemarin-kemarin ada sebuah forum diskusi soal rokok lewat media social yang pada kesimpulannya ada dua kubu yang mendukung masing-masing kubu, ya iya lah. Nah kubu itu adalah  yang pertama menolak segala jenis industry rokok entah itu yang kapitalis atau rumahan dan yang satunya masih mentolerir industry rook rumahan dengan dalih bahwa itu kearifan local. Cukup menarik memiliki dua pola pikir yang bersebrangan dalam satu pikiran nih, jadi kaya punya dua kepribadian gitu, saya mencoba meresapinya yang salah itu rokoknya atau orangnya sih ? kalau kata simbah sih cinta itu ga mendatangkan kebahagiaan tetapi kebahagiaan yang mendatangkan cinta nah berarti orangnya yang bikin industry rokok itu sudah keterlaluan dalam memperkaya dirinya dengan menyisihkan tembakau local dan mengantinya dengan tembakau impor dari brazil dan chinah. Lalu lemahnya regulasi dalam peraturan pendistribusian rokok, masa warung deket sekolah dengan bebasnya menjual rokok ke anak-anak sekolah, lah ini uang punya orang tua malah dijajanin buat beli rokok, edan. Guru-guru jadi panutan juga rokok seenak wudel di lingkungan sekolah lah ya muridnya juga ngerokok di luar sekolah juga akhirnya. Boleh lah yang mendukung rokok kretek sebagai warisan budaya local dan juga sebagai symbol perlawanan terhadap kolonialisme dahulu itu, namun sangat disayangkan jika ini membuat candu dan anak-anak terampas kesehatannya karena gandrung terhadap tembakau, ini yang saya kritik. Silahkan melakukan penelitian tentang tembakau, meneliti soal khasiat tembakau tapi jangan sampai ini di jadikan dalih bahwa merokok itu adalah hal yang tidak mengancam masa depan anak-anak bangsa karena terkena candunya sehingga mereka tidak lagi termotivasi untuk serius belajar atau sekadar untuk masuk kelas mereka jadi sungkan. Jika memang masih ingin melegalkan rokok ya mbok di perketat tuh peraturan, udah jelas rokok itu berlabel 18+ tapi bocah balita udah pada ngisep rokok apa itu mewariskan budaya perlawanan terhadap kolonialisme ? malah kita yang sedang di jajah secara mental gaes. Ayolah lihat lagi dengan jernih. Sudah cukup simbah saya yang kena penyakit komplikasi karena rokok entah itu putihan dan kretek sami mawon bikin orang bengek juga bikin paru-paru busuk, sharusnya saya masih bisa bercakap-cakap dengan simbah tetapi karena candu rokok yah mau gimana lagi penyakit komplikasi ngeroyok dan wasalam. Dulu saya juga mencoba untuk merokok selama tiga bulan lebih, semua rokok saya coba mulai dari rokok putihan, lintingan dan customan juga pernah tapi rasanya hampa-hampa aja tuh, tiga bulan lebih loh dan setiap dua hari sekali saya beli sebungkus kadang habis langsung kadang saya kasih ke temen, duit ludes jadi asep doang. Mau jajan bakpau ga bisa deh. Hah yah begitulah hidup kadang ada pro ada kontra tapi bagaimana kita menanggapinya itu lah kebijaksanaan kita. Kita tidak bisa mengubah seseorang menjadi seperti yang kita inginkan namun kita bisa mengubah orang menjadi dirinya yang sesungguhnya, itu sih hakikat pendidikan.


silahkan save ilustrasi untuk ikut berkampanye

silahkan save ilustrasi untuk ikut berkampanye

silahkan save ilustrasi untuk ikut berkampanye


Terimakasih yang telah mendukung saya dan yang tidak juga karena tanpa kalian saya hanya butiran upil hehe. . . yuk berkampanye lewat sosmed soal rokok dan industrinya. . .caw. . .

Selasa, 31 Mei 2016

Balada nikah muda ala-ala jomblo, eaaa. . .

Nemu orang lagi pre-wed dan kebetulan
bawa camdig dan hasilnya lumayan lah,
oh iya kenapa harus pre-wed yah ?
Nikah muda dan kebelet nikah itu beda-beda enyoy lah yah, kalau nikah muda memang karena kita sudah siap mental dan kita sudah punya pekerjaan sebagai jaminan kelak kita tidak menelantarkan sang istri walaupun istri memaklumi jika kita belum mempunyai pekerjaan namun sadar lah realita itu butuh asupan gizi saat hamil perlu transportasi buat persalinan, butuh biaya persalinan dan lainnya, jangan mengandalakan orang tua terus walaupun orang tua juga mau-mau saja diminta bantuannya. Kalau kebelet nikah ini nih yang cenderung karena pengaruh media yang mengajak pada hal-hal yang sewajarnya tidak di lakukan oleh anak-anak muda sekarang, mereka hanya berfikir sepotong-sepotong saja namun melupakan bagian-bagian lainnya. Pokoknya beda lah antara nikah muda dan kebelet nikah.
Ada banyak contoh nikah muda secara empiris dari orang-orang yang saya kenal, mulai dari orang tua saya dulu umur baru 21an sudah nikah, kakak saya umur 25 sudah nikah dan teman-teman saya umur 23 juga sudah nikah ada pula yang masih kuliah sudah nikah, tetapi itu pilihan mereka, tetapi mereka memiliki alasan dan argumentasi masing-masing, saya tidak bisa lalu menggugat atau mempermasalahkan itu semua sebab yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya apakah dengan bijaksana atau dengan rasa sinis ? itu juga pilihan kita, sebab kalau jomblo itu mudah tersinggung, kalau ada temennya nikah muda dia jadi kepengin juga nikah muda padahal dia selama ini tidak menyiapka apa-apa, omong kosong jika mau nikah muda tapi cuman ongkang-ongkang kaki, boro-boro nayri uang mahar nyari kerja aja ogah tuh haha. Semua orang punya impian semua orang punya ceritanya masing-masing maka hidup ini tidak perlulah kita anggap sebagai kompetisi yang saling berlomba menjadi nomor satu, lalu jika kita ingin mejandi nomer terkhir toh bukan masalah kan ? ini cerita saya ini kehidupan yang Tuhan berikan kepada saya, kenapa pula kita ikut kebelet saat teman-teman kita nikah duluan sih ?

Belajar dari ketidak tahuan, ah masa gitu aja gak tahu ?

cuman lagi liat kebawah aja kok. . .
Dulu saya tidak tahu namanya nikmat membaca, dulu saya tidak tahu namanya bahagianya saat menulis, dulu saya tidak tahu kalau punya buku-buku novel itu butuh duit banyak, dulu saya ga paham tuh namanya aksi social, aksi lingkungan, dan dahulu saya ga paham soal cinta. Tapi kini ? lumayan lah udah sebagian yang saya pahami dan pelajari, ada banyak yang ingin tahu dari kehidupan ini namun kita manusia cuman punya waktu sedikit dan kemampuan untuk berkata-kata pun sangat lah terbatas kadang yang jelas saja masih menimbulkan perdebatan, antara saya yang tidak bisa mempacari mu karena ini bukan soal status punya pacar dan ga punya pacar tetapi realitanya adalah kita ini perlu menikah untuk bisa pacaran, pelukan, ciuman dan ngapain aja dah terserah adik saja haha. Namun diri mu cuman melihat sisi gampangnya saja soal lelaki jika suka ya harus membuat status, ga cuman teman saja. Itu benar sekali namun buat ku masih ada banyak waktu untuk meminang seseorang sebab kini proses terus berlanjut terus bertumbuh, tergesa-gesa memang asik namun buat apa jika nanti berhenti di tengah jalan. Kembali lagi dulu saya memang lemot dan polos, tapi kini masih mencoba untuk polos namun bisa sigap atas hal-hal baru yang tak selalu baik. Kembali lagi dulu banyak yang tidak saya ketahui secara utuh hanya sepotong-sepotong saja, kini masih mencari potongan yang lainnya untuk terus menggenapi pazzel-pazzel kehidupan terutama soal dirimu yang eksistensinya di luar dari kepribadian saya tentunya. Namun itu bukan lah masalah karena itu merupakan proses yang tentu harus bertumbuh, tak bisa hitungan bulan atau tahun, terlalu relative.

Aku lupa mau berbuat apa ?

Waktu rambut gondrong meraja lela dan
bikin ketombean haha. . .
Saking ramainya nih lalu lintas ide dalam pikiran ditambah harus sabar menghadapi setiap perlakuan teman-teman yang perlu menjungjung tinggi asas kesabaran karena kadang ada yang lemot kadang pula ada yang tergesa-gesa buat di tampar haha, makanya lebih suka di kost atau kontrakan kalau memang tidak memiliki kepentingan yang memang penting untuk saya bahas dan kita uraikan bersama, sebab untuk menghindari tamaparan yang merusak pertemanan itu haha, tetapi pada akhirnya saya tak pernah benar-benar menampar mereka sebab mereka sudah menampar saya dahulu haha, oh iya ide-ide yang membludak kadang hanya lewat begitu saja seperti orang yang lewat permisi mau numpang Tanya kenapa kamu suka nampar-nampar sih ? ah gak nyambung tuh orang di Tanya malah nampar haha.
Manajemen per-ide-an sebenarnya perlu juga untuk kita terapkan jika tidak ingin ide itu cuman mampir lalu nyelonong pergi tanpa permisi, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Mungkin perlu kita catat dalam sebentuk judul-judul ringkas seperti judul bab pada buku novel atau buku cerpen atau pun puisi.

Kapan kita belajar renang lagi kang ?

Sok-sok an renang tapi ga bisa meluncur dari atas haha. . .
Pelajaran olahraga adalah favorite anak-anak sekelas karena ini tidak mengandalkan tingkat berfikir yang terus menrus harus focus di tempat duduk, namun fokusnya adalah pada gerak tubuh dan kelincahan tubuh dan system motorik antara tubuh dan otak. Sehingga apa yang kita pikirkan berkesinambungan dengan gerak tubuh. Memang rindu saya terhadap ritual rutin mingguan yang didedikasikan hanya untuk berolahraga dan berekreasi, bermain bola dan berlarian di matahari pagi menjadi upaya kita merilekskan tubuh dan pikiran dari tekanan mata pelajaran yang sungguh menjemukan pada masa lampau itu. Tersendat sendat dalam berkehidupan dari sudah lamanya kita tidak berolahraga yang rutin, walau kata orang sih inikan cuman mata pelajaran dan ilmu yang kita pelajari cuman dasar-dasar berolahraga dan ketika keluar dari sekolah maka seharusnya kita tidak memikirkan itu sebagai prioritas namun jadi sampingan, namun menurut saya olahraga penting walau dalam banyak institusi pendidikan tinggi tidak lagi menjadi kewajiban peserta didik untuk mendapakantnya, hanya beberapa institusi pendidikan tinggi yang menganjurkannya ada dalam proses pembelajaran, selebihnya memfokuskan pada bidang jurusannya masing-masing.

Kamu orang mana, kok ga hapal jalan sih ?

Ga sengaja liat merbabu dari merapi.
Flash back ke masa silam, dulu saya dari TK sampai SMA bosan sudah sekolah di kampung tepatnya di Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Bosan bukan berarti tidak mencintai hanya butuh hiburan, lah kadang sebulan sekali saya bertamasya ke kota untuk membeli kebutuhan rumah tangga, ya jelas saya selalu menemani orang tua saya ke kota hanya untuk makan bakso favorite atau sekadar cuci mata yang juga di selingi belanja makanan yang tidak tersedia di kampung. Seringnya saya menaiki bus oren bernama ‘keluarga’ yang kalau duduk di buritan atau bangku paling belakang serasa naik komidi putar tapi muternya ke atas naik turun gitu lah haha. Kadang juga pernah kecopetan di bus dengan modus hipnotis dan mainan yang saya beli juga ikut hilang karena berada di dalam tas ibu saya haha sial sekali. Namun seiring perkembangan zaman dan semakin bertambahnya usia saya maka intensitas menggunkan bus sebagai moda transportasi utama mulai berkurang drastis.

Senin, 30 Mei 2016

Zaman masih nyubi

Zaman masih mencari apa itu mengerti diri sendiri, sekarang
juga masih sih hehe. . .
Saat itu saya berjalan tanpa ragu lalu ragu lagi karena memang saya masih nyubi, masih bodoh dalam tingkatan terbodoh, kini masih lumayanlah bodohnya mendekati kebodohan yang hakiki. Setelah semua telah mendekati kebodohan yang hakiki itu saya merasa semua hal itu hanyalah ilmu yang membuat hampa akan lezatnya hal-hal yang tidak materil. Sesuatu yang kasat mata dalam diri ini mungkin berusaha mewujud, lalu jika hal yang kasat mata itu mewujud bagaiman tubuh ini ? apakah akan saya tinggalkan begitu saja, teronggok di dataran rendah ?
Hah jadi ngelantur begini, sebab ini memang pesan pelantur diri dari hal-hal yang stagnan. Kini lukisan itu telah hilang sebab saya tak menyimpannya. Namun semua kenangannya ada dalam jiwa ini yang kasatmata namun ingin mewujud, ingin merasakan sakitnya berekspresi dalam dunia kebendaan. Selamatkan masa atau zaman nyubi setelah anda bisa berkembang dan bertambah agak gendut, karena terlalu banayak menelan benda-benada lezat.

Sadar literasi sadar kesehatan, ah masa sih ?

Anak-anak rentan terpapar asap rokok, apakah kalian mau anak
kalian menjadi perokok ?
Banyak yang lulus cepat dan memiliki nilai tinggi ada pula yang sampai professor atau ahli dibidangnya namun yah masih ada juga yang bisa di sogok bahkan ada yang masih berlagak seperti orang yang tak pernah makan bangku sekolahan, melihat dari masih banyaknya anak-anak yang membeli rokok dengan bebasnya di warung-warung samping sekolahan pada waktu istirahat dan dengan santainya menunggu bus sambil menghisap rokok. Kadang para orang yang sudah sadar literasipun masih memiliki kelakuan untuk tidak peduli dengan kesehatannya bahkan dengan dampak apa yang telah mereka hasilkan dari perilaku merokok yang bebas dimana saja, di institusi pendidikan, di pemerintahan, di rumah, dimana pun itu ketika itu jua ada anak-anak yang menjadi korban perilaku dari kebiasan merokok. Budaya literasi tidak diikuti dengan pemikiran yang progressive. Ada yang bilang bahwa merokok itu bukan masalah pemikiran yang sudah sadar literasi atau memiliki budaya literasi namun merokok itu soal candu yang memang kompulsif di otak yang membuat otak jadi ketagihan atau entah lah saya masih belum benar-benar paham atau susah mencari kebenaran fakta yang soal rokok ini. Lalu apa pula itu budaya literasi ? buat apa pula mengurusi anak-anak yang di bawah umur untuk tidak merokok ? mengapa pula saya menulis dan berkampanye soal rokok ? toh semua itu karena negeri ini di cengkram oleh industry rokok yang pemilik rokoknya pun tidak merokok, biasanya gitu sih yang memiliki industry sudah tidak lagi butuh apa yang industry itu hasilkan, pemilik tersebut memilih menyendiri dan menikmati dunia yang sesungguhnya yang tidak ada kaitannya dengan industry.

Ada kantong plastic di dalam kantong plastic

Itu sandal jepit yang diplastikin.
Zaman depan saya menyimpan kantong-kantong plastic yang di remas-remas hingga menjadi gumpalan, lalu gumpalan itu berjumlah puluhan, ratusan dan ribuan, entah berapa lagi tak pernah kuhitung hingga satu kantung itu penuh dengan gumpalan-gumpalan plastic, otak kanan pun menggumpal dan otak kiri di remas-remas untuk menggumpal. Apakah ada kantong plastic yang berada di dalam kantong plastic ? sungguh ini lucu dan pilu, apa kita bisa tertawa dan terbahak untuk kantong-kantong itu atau plastic itu yang telah memilih kita untuk terus ditertawakan dengan lawakan plastic yang menggumpal, menyumpal lalu menggunung. Sampai rumah kita pun adalah gumpalan plastic, kasur empuk kita pun gumpalan-gumpalan, darah kita menggumpal jadi plastic. Oh iya kita adalah yang ditertawakan oleh mereka para penikmat, oleh gumpalan plastic yang selalu baru karena hanya untuk satu kali pakai. Sudah saatnya kita membuat menu baru pada café-café tempat nongkrong pemuda, menu baru yang berjudul nasi dari gumpalan plastic, es dari gumpalan plastic. Lama-lama manusia punah karena pemudanya mati terlalu kenyang memakan gumpalan plastic. Akhirnya penduduk bumi itu adalah para gumpalan plastic. Selamat atas kemenangan dari invasi gumpalan plastic, selamat datang peradapan  plastic.